Yamaha Mio S

Abah Olot, Sosok di Balik Bangkitnya Karinding

  Rabu, 06 Desember 2017   Adi Ginanjar Maulana
Abah Olot, Sosok di Balik Bangkitnya Karinding.(Naufal)

SUMEDANG, AYOBANDUNG.COM—Endang Sugriwa (53) merupakan sosok penting di balik bangkitnya kembali alat musik tradisional Sunda yaitu karinding.

Pria yang akrab disapa 'Abah olot' ini menceritakan kisahnya dari awal mengenal karinding.

"Abah dikenalkan dengan karinding sama Abah Entang (ayahnya) sejak masih kecil. Bukan hanya abah saja yang diajarin main karinding, tapi semua keluarga," ujar Abah Olot kepada AyoBandung, Rabu (6/12/2017).

Sebelum menggeluti usaha membuat karinding, Abah Olot bekerja sebagai tukang ojek pangkalan di dekat rumahnya di Desa Sindangpakuwon Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedangg. Kemudian ia bekerja di usaha kerajinan daerah Cipacing Kabupaten Bandung.

Ia bekerja membuat kerajinan dan hasilnya dikirim ke Pulau Bali untuk dipasarkan. Namun hal itu tidak bertahan lama, sejak terjadinya bom Bali 2002, Abah Olot memutuskan untuk berhenti bekerja karena omzet penjualan kerajinan menurun drastis.

Selanjutnya, Abah Olot mulai merintis usaha mebel di pekarangan rumahnya. Hingga akhirnya pada 2004, ia mendapat banyak kesenian tradional Sunda mulai punah salah satunya karinding.

"Sakit hati ketika mendengar alat musik yang sering abah mainkan sejak kecil harus dianggap punah. Terus sama abah dijaga, diberitahukan kembali ke publik bahwa karinding sebenarnya belum punah", ujarnya.

Abah Olot terus berupaya mempublikasikan cara memainkan dan pembuatan karinding ke berbagai daerah di Jawa Barat. Sebelumnya, ia sempat membagikan karinding secara cuma-cuma kepada siapa pun yang membutuhkan.

Ia menilai, dengan cara demikian, karinding akan tetap terjaga kelestariannya.

Abah Olot mengungkapkan pada periode 1940-1960, karinding akrab dalam kehidupan masyarakat Sunda. Karinding dimainkan untuk menghibur petani seusai memanen padi atau saat menjemur hasil panen. Malam harinya, karinding dimainkan sebagai wujud sukacita atas hasil panen.

“Zaman sekarang pergi ke gunung selalu membawa gitar, dulu mah zaman abah bawa karinding,” kata Abah Olot sambil tersenyum.

Pada perayaan ulang tahun Kota Bandung 2008, ia bertemu komunitas kreatif kaum muda Bandung yang tergabung dalam Commonrooms. Pada tahun yang sama dibentuk kelompok musik Karinding Attack beranggota delapan orang.

Personel Karinding Attack bukan seniman tradisional Sunda. Mereka berasal dari komunitas musik underground dan death metal yang sering dicap ”budak baong” (anak nakal). Abah Olot justru mengajari mereka memainkan karinding.

Kini alat musik yang sempat dikabarkan punah ini kembali mewabah ke berbagai daerah. Hampir semua daerah di Jawa Barat membuat karinding yang dikenalkan Abah Olot.

Di balik bangkitnya karinding, ada sosok Abah Olot yang selalu setia membuat karinding di saung bambunya. Saung bambu ini dibuat agar memudahkan orang jika ingin memesan atau sekadar belajar mengenal karinding.

“Mohon kepada generasi yang akan datang, jaga (karinding) jangan sampai punah lagi, jangan dilupakan, dan kesenian karinding jangan dikenal di Jawa Barat saja melainkan harus mendunia,” katanya.(Naufal Azhar Syauqi/ job)

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar