Yamaha Mio S

Pulau Gelap Tempat Para Penderita Kusta Yunani "Dibuang"

  Jumat, 24 November 2017   Asri Wuni Wulandari
Pulau Spinalonga, Yunani. (Pinterest)

AYOBANDUNG.COM – Pulau itu terlihat dari salah satu puncak bukit yang curam, yang menghadap sebuah desa kecil bernama Plaka di Kreta, Yunani. Tak terlalu besar ukurannya, hanya 8,5 hektare di Teluk Mirabello. Ia gelap, tak terurus. Sedangkan Semenanjung Spinalonga yang melingkari pulau itu seperti seekor kucing yang tengah tidur berjemur di bawah cahaya matahari.

Hanya berjarak selemparan batu dari Plaka, pulau gersang itu pernah menjadi benteng militer selama pemerintahan Venetian : sebuah benteng abad pertengahan. BBC Travel menulis jika pada tahun 1904, setelah orang-orang Kreta mengusir orang-orang Turki dari Spinalonga, pulau kecil itu bertransformasi menjadi koloni kusta. Sebab, pada tahun 1913, setelah Kreta menjadi bagian dari Yunani, siapa pun yang menderita kusta akan ditransfer ke pulau tersebut. Pada puncaknya, koloni kusta itu bahkan mencapai 400 penduduk.

Kusta, menyebabkan kerusakan kulit dan melemahnya saraf. Ia telah lama membawa stigma negatif di mata masyarakat. Mereka yang menderita kusta akan dijauhi, dibubuhi stigma, dan dianiaya oleh keluarga, masyarakat, bahkan profesional di bidang medis. Stigmatitasi itu kerap berlangsung begitu ekstrem sehingga dahulu kala, kusta disebut juga sebagai “kematian sebelum kematian”.

Setelah didiagnosa, penderita akan kehilangan segalanya, sekalipun kewarganegaraan yang dicabut. Identitas mereka dihapus bersih. Mereka kemudian dideportasi ke Spinalonga, di mana mereka tak pernah menerima pengobatan. Satu-satunya dokter yang ditugaskan hanya datang jika ada di antara mereka – para penderita kusta – yang terkena sakit.

Pengobatan untuk kusta sebenarnya telah ditemukan sejak tahun 1940-an, namun Yunani mempertahankan koloni tersebut terus beroperasi hingga tahun 1957. Lalu seorang ahli Inggris mengunjungi pulau tersebut dan membikin sebuah laporan yang mencela para dokter Yunani. Ia menyebut jika negara gagal memberikan perawatan medis yang tepat.

Kisah pembuangan para penderita kusta ini pula yang menginpirasi Victoria Hislop berkisah dalam sebuah novel, The Island. Novel yang berkisah tentang kisah melodramatis rahasia keluarga dan pengkhianatan yang terjadi di wilayah koloni kusta itu. Gambaran kehidupan orang-orang yang diasingkan.

Dari jauh, Spinalonga bak mahakarya lukisan pemandangan alam. Namun dari dekat, benteng itu akan menjulang seperti awan gelap. Di dalamnya tampak sebuah terowongan yang dikenal sebagai Dante’s Gate. Jajaran lubang berbentuk kota yang nampak seperti bekas-bekas jendela seolah menjadi bingkai lukisan yang berkisah tentang cerita pahit.

“Kisah Spinalonga adalah kebohongan besar,” ujar Etnolog, Maurice Born. Selama beberapa dekade setelah penutupan koloni kusta pada tahun 1957, tak banyak yang diketahui tentang pulau itu. Pemerintah, yang ingin menghapus jejak kekejaman itu, membakar semua arsipnya. Dan, penderita kusta yang masih hidup menolak untuk berbicara tentang pengalaman mereka. Selama bertahun-tahun mereka bersikap seolah Spinalonga tak pernah ada.

Namun novel Hislop mengubah semua itu. Tiba-tiba, semua orang berbicara dan mereka adalah para ahli. Pemerintah membiarkan imajinasi Hislo menggambarkan sebuah cerita romantis tentang kehidupan di koloni penderita kusta terakhir.

“Negara bagian berusaha menghapus noda pada reputasi mereka, ingin menghancurkan semua bukti koloni penderita kusta,” ujar Born. Namun kemudian, di tahun 1980an, pemerintah menyadari jika banyak wisatawan yang secara khusus datang ke Yunani untuk mengunjungi saksi bisu para penderita kusta itu.

Sebelum tahun 1930an, kata Born, orang-orang Spinalonga hidup dalam keadaan egois yang panik dan hanya memikirkan kelangsungan hidup. “Tidak ada yang saling menjaga satu sama lain, pastor mengalami kesulitan menemukan orang untuk membantu mengubur orang mati.”

Hingga Remoundakis tiba dan membentuk Persaudaraan Orang Sakit Spinalonga, sebuah kelompok masyarakat yang berdedikasi untuk memperbaiki kondisi di pulau ini. Mereka melobi pemerintah Yunani untuk hak menikahi dan mengoperasikan bisnis di pulau tersebut.

Kelompok itu juga bekerja untuk ketertiban dan kualitas hidup yang lebih baik di pulau tersebut. Terkadang warga Spinalonga juga menggelar sebuah konser musik kecil-kecilan. Tapi, salah satu hal yang paling penting adalah pelarangan adanya cermin. Tak seorang pun dari mereka yang ingin melihat dirinya sendiri. "Mereka mencari kesendirian untuk menghindari wajah yang lain,” ujar Born. Hingga tahun 1938, setidaknya mereka berhasil mendapatkan sedikit kebebasannya.

“Ketika wisatawan mulai datang ke pulau itu pada tahun 1980-an, banyak pengunjung akan menodai pemakaman tersebut,” kata Born. Akhirnya pada tahun 2013, tulang-tulang jasad dipindahkan ke sebuah tempat yang tepat berada di samping pemakaman dan ditutup dengan plakat beton baru.

Pulau itu sunyi. Hanya suara angin yang bergerak menembus rerumputan. Orang-orang Spinalonga akhirnya menemukan kedamaian.

 

Sumber foto : Pinterest

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar