Yamaha Mio S

Masjid Al-Baakhirah, Seperti Salat di Bahtera Nuh

  Senin, 23 Oktober 2017   Arfian Jamul Jawaami
Masjid Al-Baakhirah, Seperti Salat di Bahtera Nuh.(Arfian)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Baakhirah berarti bahtera. Nama tersebut dipilih karena terinspirasi kisah Nabi Nuh dan bahteranya. Tidak heran bila masjid yang berlokasi di Jalan Bapak Ampi Baros Kota Cimahi tersebut identik dengan kisah syiar Nabi Nuh karena fisik bangunannya dibuat menyerupai sebuah kapal laut tanpa kehadiran kubah.

"Nabi Nuh menyelamatkan umat dengan bahteranya. Filosofi itu yang membawa kami juga ingin menyelamatkan warga sekitar untuk beribadah di bahtera kami," ujar salah seorang pengurus Masjid Al-Baakhirah Iyek Ngadiya kepada AyoBandung, Senin (23/10/2017).

Seperti diberitakan AyoBandung, sebelumnya bila Masjid Al-Baakhirah memiliki gaya arsitektur unik layaknya kapal laut yang tengah bersandar di sebuah dermaga. Kehadiran kolam air di dasar bangunan semakin menegaskan suasana laut.

Jendela berbentuk lingkaran, jangkar, pelampung, cerobong, dan rooftop yang luas semakin menegaskan nuansa kapal laut. Bahkan desain interior masjid dibuat menyerupai kapal laut dengan kehadiran kabin nakhoda beserta beragam peralatan awak pesiar yang difungsikan sebagai kontrol lampu masjid.

Bukan tanpa alasan karena gaya arsitektur tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan bagi cita-cita sang pemilik lahan bernama Budianto. Ketika masih hidup Budianto yang merupakan nakhoda kapal selalu berkeinginan untuk mendirikan masjid di sekitar tempat tinggalnya.

Namun keinginan Budianto tidak kunjung terealisasi karena Tuhan memanggilnya lebih dulu pada tahun 2002 silam. Kemudian anak-anak Budianto berinisiatif melanjutkan cita-cita sang ayah dengan mendirikan masjid berbentuk kapal laut pada tahun 2016.

"Awalnya masjid ini akan dibangun seperti masjid lainnya. Tapi waktu dua bulan pengerjaannya pihak keluarga berinisiatif untuk membuatnya seperti perahu untuk mengenang almarhum Budianto," ujar Iyek.

Semasa hidupnya almarhum Budianto pernah menjadi nakhoda di Perusahaan Laut Nasional Indonesia untuk Kapal Kerinci. Maka tidak heran bila kemudian maket Kapal Kerinci terpajang rapi pada bagian teras masjid.

Selain itu, pada bagian rooftop masjid terdapat miniatur kabah sebagai arena pembelajaran. Namun pintu akses menuju rooftop hanya dibuka pada hari Sabtu dan Minggu.

"Banyak yang bilang untuk bisa ke atas itu dipungut biaya. Padahal gratis dan saya tidak pernah memungut biaya apapun. Kalau mau bayar cukup salat sunat dua rakaat saja," ujar Iyek.

Keunikan tidak hanya berasal dari gaya arsitektur semata karena cara dakwah yang dilakukan pihak DKM masjid juga dinilai cukup kekinian guna menyasar para Muslim muda.

Beberapa poster di desain begitu muda bernada ajakan dibuat begitu milenial dengan pesan seperti "Masjid Ranger, 7/8 Cut Why Not?" atau "Jadilah Pejuang Salat Subuh, Pantang Tidur Kemalaman Agar Tidak Kesiangan."

Lalu kajian untuk anak muda rutin dilangsungkan setiap hari Sabtu dan Minggu malam sedari waktu magrib hingga isya. Tentu kajian diisi oleh pembahasan yang disampaikan melalui gaya kekinian.

Selain itu setiap satu bulan sekali di setiap minggu terakhir rutin digelar "Tahajud Bersama" guna mengajak warga menjalani solat tahajud bersama tapi tidak berjamaah.

"Kegiatan untuk remaja sengaja dijadwalkan setiap malam minggu. Jadi anak mudanya tidak keluyuran ke mana saja," ujar Iyek.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar