Yamaha NMax

Tolak Tradisi Adu Bagong, Yayasan Scorpion Datangi Gedung Sate

  Senin, 23 Oktober 2017   Ananda Muhammad Firdaus
Sekumpulan massa yang berasal dari Yayasan Scorpion melakukan aksi unjuk rasa menuntut penghentian tradisi adu bagong di depan Gedung Sate, Bandung, Senin (23/10). (AyoBandung/Ananda Firdaus)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sejumlah massa dari kelompok pemantau perdagangan satwa liar, Yayasan Scorpion Indonesia, menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Senin (23/10/2017). Mereka menuntut penghentian tradisi “adu bagong” yang masih dilakukan di sejumlah daerah di tanah air. Pasalnya, mereka menilai jika hal tersebut merupakan tindakan keji terhadap hewan.

"Adu bagong adalah pertempuran yang biasa dilakukan antara anjing dengan babi hutan di dalam sebuah arena. Pertempuran setidaknya memperlihatkan bentuk kekejaman terhadap hewan," ungkap Direktur Investigasi Yayasan Scorpion Indonesia, Marison Guciano. 

Ia mengemukakan, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu kawasan yang mana masih mempertahankan tradisi ini. Tradisi itu bisa dilihat seperti di kawasan Kabupaten Bandung, Majalengka, Kuningan, Garut, Sumedang dan beberapa daerah lainnya.

Lanjutnya, kekejian tersebut bukan hanya berlangsung saat “adu" atau pertandingan dilakukan. Para babi hutan yang telah ditangkap sebelum diadu terlebih dahulu dikurung dalam boks yang sama sekali tidak membuat mereka bisa bergerak.

Begitu juga dengan anjing, yang dipaksa tuannya untuk diadu dengan babi hutan sampai berdarah-darah. Tak sedikit dari hewan-hewan itu yang mengalami luka, bahkan hingga menimbulkan kematian.

"Karena dalam adu adu bagong itu, baik anjing maupun bagong bisa mati karena pertempuran yang berdarah-darah," kata dia.

Pihaknya meminta Gubernur Jawa Barat agar mengoreksi tradisi yang sudah terlanjur turun temurun itu. Jika diteruskan, ia khawatir masyarakat menjadi tidak peka akibat membiasakan diri melihat hal-hal yang kejam.

"Menyiksa hewan menjadi hal yang biasa dalam kehidupan sehari hari. Mereka malah senang, bersorak sorak melihat hewan yang menderita. Ini tentu menyedihkan,” pungkasnya.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar