10 Band Indie Bandung yang Dikenal di Negeri Orang

  Rabu, 04 Oktober 2017   Asri Wuni Wulandari
The S.I.G.I.T (Instagram @thesigit_)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Angkuy dan Nobie baru saja berdiri di panggung Korea Selatan. Yup, Bottlesmoker – band elektronik asal Bandung – baru saja menggelar turnya bertajuk “Outlab Trip” di Negeri Ginseng selama lima hari, sejak Minggu (29/9/2017) hingga Selasa (2/10/2017) kemarin.

Melesatnya Bottlesmoker ke Korea Selatan menambah catatan band-band lokal asal Bandung yang menjajal negeri orang untuk menajamkan taringnya dalam kancah musik internasional.

Tak heran jika Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sempat mencetuskan jargon “Bandung Kota Musik”. Sejak dulu, Kota Kembang memang disebut-sebut sebagai embrio musik Tanah Air. Terkhusus, soal musik yang bergerak di ranah subkultur atawa mereka para musisi yang memilih jalur non-mainstream dalam berkarya. Atau, dalam bahasa termutakhirnya : indie.

Jube dalam buku Revolusi Indie Label (2008) pernah menulis jika Bandung, yang sempat dijuluki sebagai barometer musik rock underground di Indonesia, merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan skena subkultur nasional. Bahkan, majalah musik pertama Indonesia, Aktuil, berdiri di Bandung. Jadi jangan heran kalau Bandung memang punya segudang musisi lokal yang lihai.

Tak hanya menelurkan karya-karya yang jadi panutan banyak orang, tapi band-band lokal asal Bandung juga jago mengharumkan nama Indonesia di kancah musik internasional. Beberapa band asal Bandung tercatat mendunia, mulai dari menggelar tur pribadi, mengisi panggung-panggung kelas wahab, hingga merilis album di negeri orang.

Berikut AyoBandung kumpulkan beberapa band asal Bandung yang bergema di negeri orang.

 

Burgerkill

Band cadas asal Ujung Berung ini punya karir yang panjang di kancah musik internasional. Di tahun 2009, misalnya, Burgerkill tercatat tampil dalam sebuah konser rock terbesar di Australia, “Soundwave”. Lantas di tahun 2010, band yang terkenal dengan lagu “Tiga Titik Hitam” ini juga sempat menjadi pembuka band metal papan atas, Matadon, di gelaran “Big Day Out 2010”. 

Terakhir, di tahun 2015 lalu, Burgerkill juga tampil pada ajang festival “Wacken Open Air 2015” di Jerman dan “Bloodstock Outdoor Heavy Metal Festival 2015”.

Tak hanya tampil di negeri orang, Burgerkill juga tercatat pernah menang dalam ajang Golden Gods Awards 2013 dengan kategori Metal As F*ck. Pada ajang tersebut, Burgerkill berkesempatan tampil sepanggung dengan beberapa nama grup metal tersohor dunia sekaliber Motorhead.

Ketenaran Burgerkill ini juga yang akhirnya mendorong Puma – produk sportware ternama Amerika – untuk menjadi endorsement band yang sering meminta penontonnya untuk melakukanwall of death’ ini.

Dan bahkan, ketenaran Burgerkill ini juga membikin beberapa pegiat musik subkultur Jerman dan Belanda (dan bisa jadi juga negara-negara lainnya) mengenal Indonesia dengan nama Ujung Berung Rebel – sebuah komunitas musik underground Bandung yang salah satunya dipelopori oleh Burgerkill.

The S.I.G.I.T

Seturut dengan namanya yang super panjang – The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, kuartet rock ‘n roll asal Bandung ini juga dicap sebagai band yang paling “hobi” manggung di luar negeri.

Australia menjadi negara pertama yang dijajal oleh The S.I.G.I.T di tahun 2007. Kala itu, Rekti CS menjalani tur Australia yang diinisiasi oleh Caveman Record – label rekaman Australia yang merilis album perdananya Visible Idea of Perfection. Sontak, hal itu pun membuat nama The S.I.G.I.T sempat menjadi headline di beberapa media musik Australia.

Selanjutnya, band beranggotakan empat pria gondrong ini menjajal panggung SXSW di Texas, AS pada tahun 2009. Selain itu mereka juga pernah tercatat tampil di Hong Kong, Singapura dan Malaysia di tahun 2007 dan 2013.

Taring musikalitas The S.I.G.I.T memang telah diakui dunia. Salah satu media musik berpengaruh di Inggris, NME, pernah menulis jika The S.I.G.I.T tak ubahnya sebuah isyarat untuk sejenak melupakan legenda rock ‘n roll serupa Led Zeppelin.


MOCCA 

Siapa yang tak menyukai alunan suara Arina yang renyah dan manis? Semua pasti suka, termasuk orang-orang di Korea Selatan sana. Jangan berpikir kalau orang-orang Korea Selatan selalu menggandrungi k-pop. Buktinya, Mocca berkali-kali diundang untuk bermain dalam festival-festival musik bergengsi di Korea Selatan.

Sentuhan musik jazz dipadu twee pop dan suasana 1960-an rupanya membikin orang-orang Korea Selatan sana terkesima. Terakhir, pada 20-25 September lalu, Mocca tampil dalam konser “Mocca Live in Seoul” dan gelaran “Asia Song Festival”. Selanjutnya, mereka harus terbang ke Australia untuk tampil pada 27-30 September 2017 dalam turnya.

Sebelumnya, di tahun 2008, band yang dikenal dengan lagu “Secret Admirer” ini diundang untuk tampil di Olympic Park, Seoul dan sukses memukau sekitar 700 orang yang hadir di sana. Juga masih di Korea Selatan, Mocca tampil di Pentaport Rock Festival di Incheon pada Agustus 2012.

 Tak hanya di Korea Selatan, Mocca juga pernah tampil di Jepang dan sederet negara Eropa. Bahkan di Jepang, beberapa lagu yang ditelurkan Mocca juga dijadikan soundtrack untuk film dan jingle iklan.

Jeruji

Pada tahun 2015 lalu, band punk asal Bandung ini menjalani konsernya di 21 kota di Eropa dengan tajuk “JERUJI 20th Anniversary of European Tour”. Beberapa negara tercatat di antaranya Ceko, Slovakia, Polandia, Jerman, Austria, Belgia, Prancis, Belanda dan Swiss.

Perjalanan Jeruji itu juga didukung oleh Wali Kota Bandung Ridwan kamil. Dalam akun Instagramnya, Emil – sapaan Ridwan Kamil – menyebut jika konser tersebut merupakan bentuk diplomasi musik untuk mendukung promosi Indonesia, khususnya Bandung.

Speaker First

Kalau bicara soal kebanggan, Speaker First patut berbangga hati. Bagaimana tidak? Band rock ‘n roll asal Bandung ini berhasil menduduki panggung festival musik paling bersejarah di dunia, “Woodstock Festival” pada Agustus lalu di Polandia. Tak main-main, bukan? Setidaknya, Indonesia pernah mencatatkan sejarah di panggung musik bersejarah yang satu itu.

Meski namanya dalam beberapa tahun terakhir kurang terdengar, namun rupanya beberapa label rekaman asal Amerika Serikat mati-matian melirik band yang punya fanbase berjuluk Speaker People. Lirikin label musik Negeri Uwak Sam itu muncul setelah trio ini menjalankan tur perdananya di Amerika Serikat bertajuk “The Anthem Tour 2017”.

Sebelumnya, band yang mengisi salah satu soundtrack film GIE ini menjalani konsernya di beberapa klub di London, Inggris pada tahun 2016.

Bottlesmoker

Duet elektronik ini berhasil memikat promotor negeri tetangga, Malaysia dan Filipina. Di tahun 2009, duet Angkuy dan Nobie ini menjalani tur perdananya di Malaysia. Lantas, mereka juga tercatat pernah tampil di “Asian Festival Filipina” di tahun 2010.

Tak hanya tampil di negeri orang, band alumnus Fikom Unpad Bandung ini juga pernah didapuk sebagai Best Electro/Dance Act sebagai jawara utama dan Best Electro/Dance Song sebagai juara ketiga pada kompetisi musik indie Asia Pasific Voice Independent Music Awards di tahun 2010.

Lalu pada tahun 2016, Bottlesmoker bersama Stars and Rabbit menjadi band-band pertama di Indonesia yang diundang untuk tampil dalam festival musik bergengsi Singapura, “Laneway Festival”.

Nah, yang teranyar, baru saja di hari Jumat (29/9/2017) lalu, Bottlesmoker bertandang ke ibu kota Korea Selatan, Seoul. Agendanya jelas untuk menggelar sebuah tur bertajuk “Outlab Trip – South Korea” yang dibungkus dengan program edukasi juga traveling. Dalam wawancaranya bersama Rolling Stone Indonesia, Bottlesmoker mengungkapkan jika tur ini menjadi salah satu gerbang untuk berkenalan dengan komunitas musik di Korea Selatan.


RNRM

Band elektronik asal Bandung ini pernah merilis album pertamanya, RNRM, di Eropa. Tak disangka, sambutan pendengar bisa dibilang luar biasa. Alhasil, di sekira tahun 2008, RNRM menggelar tur Eropa untuk pertama kalinya selama satu bulan. Turnya kali itu juga kebetulan dibantu oleh Perkumpulan Pelajar Indonesia di Belanda.

Dalam wawancara bersama Rolling Stone Indonesia, duet yang selalu mengajak penontonnya untuk joged ini mengaku senang lantaran crowd di Eropa yang dinilai cukup terbuka. “Kalau di sini, susah banget (orang) joged sama musik kami. Musik kaya kami mungin enggak aneh di sana,” ujar Hendra.

Hollywood Nobody

Alunan bossanova dari Bandung bergaung di Singapura. Ya, di tahun 2011 lalu, Hollywood Nobody pernah tercatat tampil di “Baybeats Festival” di Esplanade, Singapura. Tak main-main, band yang bernaung di bawah Fast Forward Records itu didapuk sebagai penampil utama gelaran tersebut.

Beside

Baru pada Agustus lalu, band cadas jebolan Ujung Berung Rebel ini tampil menghentak panggung “Wacken Open Air 2017”, salah satu panggung musik cadas paling bergengsi di dunia.

Tak main-main, lusinan nama tercatat pernah menduduki panggung tersebut. Sebut saja Scorpions, Judas Priest, Alice Cooper, Motorhead hingga Dream Theater pernah tampil di sana!

Majunya band yang dikenal dengan sejarah Tragedi AACC 2008 ini ke WOA tergelar atas inisiatif DCDC. Sebelumnya, Beside dipertandingkan dulu dengan band-band cadas Indonesia lainnya di “Wacken Metal Battle Indonesia” pada Mei lalu di Gudang Persediaan PT KAI, Bandung.

Astrolab

Meski tidak seperti band-band di atas lainnya yang telah menduduki panggung-panggung internasional, nama Astrolab juga rasanya patut dicatat. Nyatanya, cara menajamkan taring dalam kancah musik internasional tak melulu dengan menunggu undangan panggung di festival-festival musik berskala nasional. Tapi juga dengan merilis albumnya di negeri orang. Seperti yang dilakukan band indie pop asal Bandung ini.

Di tahun 2012 lalu, Astrolab merilis albumnya Poor Trendy Boys di bawah naungan Dufflecoat Records, sebuah label rekaman asal London, Inggris. Selain itu, EP (mini album) Astrolab juga tercatat pernah dirilis di Inggris sana.

Selain itu, Astrolab dengan lagunya "Crystal Clear", bersama beberapa band indie Indonesia lainnya seperti Zeke and The Popo, Sajama Cut dan lain-lain pernah menggarap album kompilasi bertajuk We All Are Palestinian, sebuah album bersama yang menyuarakan perdamaian di Palestina pada tahun 2012 lalu. Selain disebar di Indonesia, album ini juga tersebar di negeri-negeri orang.

 

Sebenarnya, selain 10 nama di atas, masih banyak lagi band-band indie Bandung yang tercatat pernah memperkenalkan Indonesia, khususnya Bandung di negeri orang. Meski tidak melulu berbentuk sebuah undangan manggung di festival-festival besar. Seperti misalnya perilisan album dengan label rekaman negeri orang, membuat kolaborasi dengan band-band luar atau manggung di gigs-gigs kecil negeri orang. Pertanyaannya, mengapa? Coba saja tanyakan pada daun yang bergoyang…

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar