Satai Anggrek: Satai Mirah Favoritna Urang Bandung

  Rabu, 27 September 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Warung Satai Anggrek. (Eneng Reni/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kepulan asap memenuhi persimpangan Jalan Anggrek dan Jalan RE Martadinata Kota Bandung setiap menjelang petang. 

Sekilas seperti tengah terjadi kebakaran. Namun ketika asap itu menusuk hidung, terciumlah aroma daging kambing atau sapi yang tengah dibakar. 

Di atas tungku pembakaran yang panjangnya sekitar 7 meter itu, berjejer sekitar 100 satai yang mengeluarkan aroma kelezatan yang melelehkan air liur.  

Beberapa orang terlihat hilir mudik keluar masuk warung tenda pinggir jalan tersebut. Sebagian lainnya rela antre di depan tempat pemesanan, sebab semua kursi telah terisi penuh. 

Semua kelas sosial, muda maupun tua bergerombol dengan satu tujuan menyantap kelezatan si Satai Anggrek.

Iya, Satai Anggrek. Begitulah orang-orang menyebutnya karena diambil dari nama jalan tempat pemilik satai itu berjualan, jalan Anggrek. 

Padahal nama sebenarnya adalah “Satai Mirah”. "Mirah" berarti murah dalam Bahasa Sunda. Sesuai dengan namanya, memang harga sajian satai ini terbilang ramah untuk isi dompet. Seporsi yang isinya 10 tusuk satai sapi, kambing, atau ayam saja para pembeli cukup mengeluarkan Rp14.000 saja. Jika mau pakai nasi atau lontong tinggal tambah Rp5.000 saja.

Tak hanya itu, Satai Anggrek juga menyediakan menu lainnya seperti satai telur dan soto ayam, soto Sulung khas Madura. Untuk satu porsi soto ini harganya Rp12.000. Sedangkan sate telur harganya Rp3.000 per tusuk. 

Satai telur adalah kuning telur rebus yang diambil dari ayam muda. Dalam satu tusakan terdiri dari satu bulatan kuning telur diapit dengan sate kambing atau sapi. 

Kedai satai milik H. Ahmad Nawawi ini sudah berdiri sejak 1980. Awalnya yang berjualan satai adalah orangtuanya.

"Usaha Sate Anggrek ini awalnya dari kakek. Terus diturunkan sama bapak-ibu. Jadi bapak-ibu ini generasi kedua yang meneruskan usaha sate ini," ujar Nur (27) putri sulung dari Ahmad Nawawi saat ditemui AyoBandung, Rabu (27/9/2017).

Nur juga menuturkan, sang kakek dulu memang sengaja menempelkan nama "Anggrek"  itu di tempat jualan satai keluarganya supaya orang-orang penasaran untuk mencobanya.

“Kata Bapak sengaja dipilih nama itu supaya orang-orang penasaran. Padahal itu hanya diambil dari nama jalan tempat jualan saja,” sambung Nur di sela-sela kesibukannya meladeni pembayaran dari pelangggan.

Warung satainya mulai buka mulai pukul 16.00 sampai pukul 23.00 WIB.

Nur mengaku usaha bapaknya itu sanggup menghabiskan 5.000-7.000 tusuk satai per hari. Tak heran bila tempat itu tak henti-hentinya didatangi pengunjung. "Kita sehari bisa ngabisin 50-100 kg daging," lanjutnya. 

Saking ramainya, usaha satai Anggrek H. Ahmad Nawawi ini bahkan memerlukan bantuan 12 orang pegawai dengan rincian tujuh orang membakar satai, empat orang melayani pelanggan, dan satu orang mengurusi pembayaran. 

Meski jumlah karyawannya hampir mirip dengan tim sepakbola, namun mereka masih kewalahan. Pesanan tak henti-hentinya berdatangan.

Kekhasan satai Anggrek ini terletak pada rasa yaitu racikan khas sate Madura dan harga yang murah meriah.  

Jadi buat kamu warga Bandung asli atau wisatawan yang mau menjajal salah kuliner satai murah di Bandung, sangat disarankan untuk mencoba satai yang berada di mulut Jalan Anggrek ini. Sekadar tips datanglah lebih awal.  Jika sudah lewat malam, satai Anggrek sudah pasti diserbu pembeli. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar