Yamaha Aerox

Bermain Sapintrong di Sekolahan!

  Jumat, 08 September 2017   Anggun Nindita Kenanga Putri
Amanda Amalia bersama teman-temannya bermain congklak dalam Festival Kaulinan Urang Sunda Lembur di SMP Negeri 13 Bandung, Kamis (7/9). (AyoBandung/Anggun Nindita)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Dua remaja cantik berkebaya Sunda itu berdiri saling berhadapan. Masing-masing dari mereka memegang setiap ujung untaian karet yang memanjang. Di dekatnya, Billy Elinova bersiap-siap melompat. Tapi, ah, sayang sekali. Lantaran telat mengambil ancang-ancang, ia malah terjatuh.

Tapi Billy tak patah arang. Ia mencobanya lagi. Setelah satu lompatan, akhirnya ia berhasil melewati karet setinggi paha itu.

Ya, Billy dan kawan-kawan sedang bermain salah satu permainan tradisional yang dikenal dengan sebutan sapintrong alias permainan lompat tali. Mereka bermain di dalam gelaran Festival Kaulinan Urang Sunda Lembur yang berlangsung di SMP Negeri 13 Bandung, Kamis (7/9/2017).

“Permainannya seru. Tadi biar sempat jatuh tapi saya penasaran ingin coba melompat lagi,” kata Billy.

Tak jauh dari tempat Billy bermain sapintrong, anak-anak lain berdiri berbaris saling memegang pundak dari arah belakang hingga barisan itu berbentuk serupa ular. Sedangkan kedua anak lainnya berdiri berhadapan sembari menyatukan tangan mereka setinggi mungkin. Mereka berdua jadi serupa gerbang yang dilewati barisan mengular tadi.

Ular naga panjangnya bukan kepalang.. Menjalar-jalar selalu kian kemari.. Umpan yang lezat itulah yang dicari.. Ini dianya yang terbelakang.. Lantas, HAP! Salah seorang dari barisan mengular tertangkap. Terpaksa Aulia Siti berpisah dengan teman-temannya dan beralih ke belakang seseorang yang menjadi gerbang.  

Pada saat lagu selesai dinyanyikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang. Setelah itu, barulah sang induk angkat bicara. Si induk mulai bernegosiasi dengan gerbang. Penyanderaan anggota bakal terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota.

Permainan ular naga ini sudah akrab dimainkan oleh Aulia semenjak dirinya masih duduk di bangku SD. Tidak ingin kenangan masa kecilnya hilang, ia semangat untuk terus bermain ular naga. “Permainan ular naga itu membangun kebersamaan. Kita semua bisa tertawa-tawa di sini,” ujarnya.

Tak hanya bermain sapintrong dan ular naga, siswa dan siswi SMPN 13 Bandung juga bermain permainan tradisional yang lain. Misalnya saja Amanda Amalia yang memilih untuk bermain congklak di sisi lapangan lantaran tak mau kena panas. Atau, Chrisliben yang untuk pertama kalinya mencoba berdiri di atas egrang.

Gelaran Festival Kaulinan Urang Sunda Lembur itu memang sengaja dihelat untuk menumbuhkan kebersamaan siswa dengan permainan tradisional. Selain itu, sekaligus juga untuk mendorong generasi muda agar terus melestarikan budaya Sunda.

Tak disangka, antusias siswa-siswi rupanya sangat positif. “Mereka semua yang membawa semua permainan itu dari rumah. Seperti sapintrong atau egrang, mereka inisiatif bawa sendiri,” ujar Kepala Sekolah SMPN 13 Bandung, Jajang Hermawan.

Tidak hanya sapintrong atau egrang, anak-anak juga bebas melakukan segala permainan tradisional yang mereka sukai. Mulai dari ular naga, bebentengan, gobak sodor, gangsing, sampai engklek.

Melihat antusias positif ini, nantinya agenda tersebut bakal jadi acara rutin yang diadakan setiap hari Rabu di jam pelajaran pertama. “Konsepnya adalah bersenang-senang. Jadi kami ingin membuat mereka tetap memiliki kenangan indah dengan permainan tradisional, sehingga permainan tradisional tidak akan terlupakan,” ujar Jajang.

Selain itu, permainan tradisional ini juga dinilai mampu membikin siswa lebih membaur satu sama lain. Bagi SMPN 13 Bandung, hal itu tentu berguna, mengingat generasi muda zaman kiwari punya kecenderungan untuk hidup individualis. Misalnya, kesibukan seorang anak seorang diri dengan gadget-nya. “Dengan memainkan permainan tradisional juga diharapkan ketergantungan mereka akan gadget bisa berkurang,” ucap Jajang.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar