Yamaha Mio S

Wabah Intoleransi, Masyarakat Jabar Harus Kembali pada Asas Kebangsaan

  Rabu, 26 April 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Sistem pendidikan Indonesia seringkali tidak mengindahkan ajaran untuk menghargai keragaman dan nilai budaya dalam menghadapi perbedaan. Hal itu yang membuat konflik vertikal kerap bermunculan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. 

Pandangan itu diungkapkan oleh Antropolog Universitas Padjadjaran (Unpad), Selly Riawanti dalam kegiatan diskusi terbuka bertajuk Ancaman Intoleransi dan Hoax terhadap Ketahanan Bangsa, bertempat di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung pada Selasa (25/4) kemarin.

Budaya intoleransi, bagi Selly, bergantung pada kekuatan dan daya provokasi yang digulirkan. Jika provokasi itu dilakukan secara masif, maka itu bisa berpeluang besar untuk melahirkan intoleransi baru.

Dalam hal ini, peran seorang penerima pesan menjadi kunci utama. Provokasi akan selalu ada. Begitu pun dengan hoax yang tidak dapat dielakkan. “Jadi harus dari kitanya,” ujar Selly.

Pasalnya, dari kacamata budaya, tidak ada strategi yang baku untuk menghadapi krisis intoleransi di dalam tubuh masyarakat ini. “Sekarang itu, tidak ada strategi yang harus begini atau yang ringkas. Enggak mungkin,” tegasnya.

Masyarakat Bandung, atau Jawa Barat dalam lingkup yang lebih luas, dinilai Selly, terlalu kompleks. Terdiri dari masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda satu sama lain. Ada yang berpendidikan, ada yang cukup mendapatkan ketersediaan informasi, pun ada juga yang tidak memiliki ketersediaan informasi.

Dengan begitu, Selly menilai, harus ada strategi yang berbeda dalam menghadapi intoleransi ini, disesuaikan dengan faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakatnya. “Strateginya seperti apa, ya silahkan itu pemerintah,” ujarnya.

Tapi yang pasti, Selly berharap, meskipun kompleks dan diperlukannya strategi yang berbeda-beda, masyarakat Jawa Barat tidak usah mengkotak-kotakkan seseorang atau suatu hal berdasarkan agama ataupun unsur kedaerahan. Masyarakat, seyogyanya, harus kembali kepada asas satu bangsa dan satu negara.

“Kita kembali kepada kebangsaan, bukan ke-Jawa Baratan. Sehingga Jawa Barat juga bisa jadi salah satu tempat yang nyaman buat penduduknya sendiri,” tutup Selly.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar