Patung Sebesar Jarum, Perjalanan Ritual Toni Kanwa

  Senin, 07 Maret 2016   Yatti Chahyati
UNIK : karya Toni Kanwa Adikusumah yang cukup unik adalah membuat patung mini sebesar jarum atau korek api yang menjadi gagasan pertama di dunia yang dia sebut sebagai Kosmologi Hidup. (Agung/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.com - Toni Kanwa Adikusumah yang mulai merintis dunia seni sejak akhir 70an lewat teater bersama grup "Teater Sang Saka", namun ia juga menghayati dunia tari dan seni rupa khususnya patung.

Salah satu karyanya yang cukup unik adalah membuat patung mini sebesar jarum atau korek api yang menjadi gagasan pertama di dunia yang dia sebut sebagai Kosmologi Hidup.

Bahkan karyanya tersebut pernah ditampilkan di Singapore Biennale 2013 dan membuat pengamat seni dunia tertarik tentang patung mini tersebut.

Menurut Toni Kanwa, gagasan mengenai kosmologi hidup mempresentasikan jiwa cakrawala kosmologi serta mengungkap perjalanan ritualnya.

"Ukiran kayu yang dibuat secara hati-hati dan dibentuk secara intuitif merupakan ekspresi dalam merespon alam, spiritualitas, serta kosmos makro dan mikro," katanya di Bandung, Senin (7/3/2016).

Kreasinya tersebut dimulai dengan ritual khusus seperti berdialog dengan bahan yang digunakan, karena ia percaya bahwa setiap materi memiliki karakternya sendiri, dilengkapi sensitivitas mengikuti gerakan energi dalam materi tersebut.

"Bentuk ukirannya mewujudkan tanda-tanda atau simbol-simbol menarik untuk kembali ke kosmologi alam, sosok manusia adalah referensi dari bentuk patung yang merupakan makhluk paling sempurna," ucap Toni.

Toni menjelaskan kosmologi hidup bukanlah penyelidikan atau studi bentuk dan angka, melainkan wujud dari tema spiritualitas, alam, dan isu-isu kosmos yang disajikan melalui berbagai formasi karya.

"Budaya-budaya tradisional Indonesia sangat mempengaruhi karya, dengan penjelajahan ke berbagai daerah pedalaman akan menemukan praktik artistik dan spiritual dari masyarakat adat setempat," ujarnya.

Eksplorasi Toni memunculkan pemahan mendalam tentang budaya asli tradisional Indonesia, tak hanya mengamati tetapi terlibat dalam prosesnya saat berpartisipasi di kehidupan sehari-hari masyarakat adat.

"Memahami pengetahuan dan praktik suci mereka, penuh dengan gaya hidup yang terlihat dalam kosmologi hidup, penemuan ini telah menghasilkan tatanan visual dan batin yang membentuk praktik seni sekarang," katanya.(Agung)

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar