Pendidikan Nuklir Kurang Diminati Mahasiswa Indonesia

  Sabtu, 26 September 2015   Yatti Chahyati
Ilustrasi

Moskow-Wakil Kepala Universitas Riset Nuklir Rusia MEPhI, Tikhomirov Genagy, mengatakan baru sedikit mahasiswa asal Indonesia yang belajar mengenai nuklir di universitas tersebut.

"Baru ada satu mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas ini," ujar Genagy dalam konferensi pers di Moskow, Rusia, Sabtu.

Dia mengatakan mahasiswa asal Indonesia tersebut, baru masuk di universitas tersebut. Hal itu dikarenakan kerja sama nuklir antara Indonesia dan Rusia baru dimulai pada tahun ini.

"Kami berharap akan semakin banyak mahasiswa Indonesia yang akan belajar di universitas ini," tambah dia.

Universitas MEPhI merupakan salah satu universitas riset ternama di dunia. Pengajar di universitas tersebut merupakan fisikawan ternama di dunia.

Universitas tersebut juga didukung oleh 64 pusat riset, organisasi dan universitas di seluruh dunia seperti Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA), Rosatom, Stanford, Cambridge, dan lainnya.

Saat ini, jumlah mahasiswa asing yang belajar di universitas tersebut sebanyak 600 orang.

"Kami menargetkan, sebanyak 2000 mahasiswa asing bisa kuliah di universitas ini." Berbagai keunggulan yang dimiliki universitas tersebut yakni mempunyai berbagai fasilitas fisika nuklir, reaktor nuklir, laser, olasma, nanomaterial, sistem nano, nuklir untuk pengobatan dan fisika medis, riset luar angkasa, material, serta teknologi nuklir dan kimia.

Dia mengatakan biaya kuliah di universitas itu sekitar 150.000 rubel per tahun atau Rp35 juta per tahun. Pihak universitas juga memberikan beasiswa.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S Wisnubroto, mengaku di Tanah Air sendiri program studi Teknik Nuklir kurang diminati.

"Mungkin karena masa depan nuklir belum menemukan titik cerah. Bahkan setelah 1998, Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada masuk ke dalam Teknik Fisika, bukan berdiri sendiri," kata Djarot saat dihubungi di tempat terpisah.

Djarot sendiri menyayangkan sedikitnya mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan nuklir di Moskow, Rusia. Padahal banyak mahasiswa asing belajar di kampus tersebut.

Beasiswa Seorang mahasiswi asal Palestina yang menempuh pendidikan di Universitas MEPhI, Abeer Abudan, mengaku sangat bangga bisa kuliah di universitas tersebut.

"Ini merupakan tahun pertama saya kuliah di universitas ini dan mengambil program studi keamanan informasi," ujar Abudan.

Abudan yang mengenakan jilbab tersebut menambahkan awalnya dia cemas untuk mengambil studi pascasarjananya di universitas itu, karena dia seorang Muslim.

"Alhamdulillah, apa yang saya takutkan tidak terjadi. Universitas ini menyambut siapa saja dengan tangan terbuka," kata Abudan.

Abudan menempuh pendidikan sarjana di Rusia dan kemudian dia mendapatkan beasiswa untuk pascasarjana di Universitas MEPhI, Moskow, Rusia.(*)

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar